Pendahuluan
Perkembangan
industri di daerah DKI dan sekitarnya dewasa cukup pesat. Peningkatan jumlah
industri ini akan selalu diikuti oleh pertambahan
jumlah limbah, baik berupa limbah padat, cair maupun gas. Limbah tersebut
mengandung bahan kimia yang beracun dan berbahaya (B3) dan masuk ke Teluk
Jakarta melalui 13 DAS yang bermuara ke perairan ini. Masuknya limbah ini ke
perairan laut telah menimbulkan pencemaran terhadap perairan. -Diperkirakan dalam sehari lebih dari 7.000
m3 limbah cair termasuk diantaranya yang mengandung logam berat yang dibuang
melalui empat sungai yang melintasi wilayah Tangerang. Keempat sungai itu
adalah Sungai Cisadane, Cimanceri, Cirarab dan Kali Sabi. Sungai-sungai
tersebut bermuara ke Teluk Jakarta, sehingga dapat meningkatkan kadar logam
berat dalam air laut. Teluk Jakarta merupakan teluk yang paling
tercemar di Asia akibat limbah
industri dan rumah tangga. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa kadar logam berat dalam air di Teluk Jakarta
sudah tergolong tinggi, bahkan di beberapa lokasi seperti muara Angke kadar
logam beratnya cenderung meningkat. Hasil penelitian di perairan muara Angke
menunjukkan bahwa air laut , udang, kerang-kerangan dan beberapa jenis ikan
yang hidup di muara Angke telah tercemar oleh merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan
Kadmium (Cd). Selanjutnya disebutkan bahwa sumber bahan cemaran tersebut
berasal dari kegiatan di darat, khususnya industri yang membuang limbahnya ke
Kali Angke. Selanjutnya hasil penelitian
menunjukkan bahwa kandungan logam berat di Barat Teluk Jakarta lebih tinggi
dibandingkan di bagian Timur Teluk. Hasil ini menunjukkan bahwa
sungai–sungai yang bermuara di bagian Barat Teluk lebih banyakmengandung logam
berat dibandingkan dengan sungai-sungai yang bermuara di bagian Timur.
Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh
dapat disimpulkan bahwa kadar logam berat Hg, Pb, Cd, Cu, Zn, dan Ni hasil penelitian
P2O-LIPI masih sesuai dengan NAB yang ditetapkan oleh [7] untuk kepentingan
biota laut, sebaliknya hasil penelitian BPLHD kadar logam berat tersebut telah
melewati NAB. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh perbedaan letak stasiun
sampling. Dengan demikian penyebab kematian massal ikan ini bukan disebabkan
oleh logam berat, akan tetapi disebabkan oleh munculnya beberapa jenis
fitoplankton yang beracun, sehingga warna air laut menjadi kemerahan. Selain
fitoplankton beracun, senyawa fenol dapat pula menyebabkan kematian ikan,
mengingat senyawa ini paling banyak digunakan oleh manusia sebagai antiseptic.
Saran
1.
Adanya kesadaran yang tinggi dari
masyarakat agar menjaga lingkungannya.
2.
Menetapkan batas aman untuk limbah yang
dibuang ke laut atau sungai.
3.
Mengurangi intensitas limbah rumah
tangga.
4.
Melakukan penyaringan limbah pabrik
sehingga limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat
perusak ekosistem.
5.
Pembuatan sanitasi yang benar dan bersih
agar sumber-sumber air bersih lainnya tidak tercemar.
Daftar Pustaka
1] Anon., Environemntal Watch,
Catatan Peristiwa Kerusakan Lingkungan, Forum Pengendali Lingkungan Hidup
Indonesia, Jakarta, 2004.
[2] S. Yatim, S. Surtipanti, S.
Syamsu, E. Lubis, Majalah Batan No.12 (1979) 1.
[3] H.P. Hutagalung, H. Razak, Oseanologi di Indonesia 15 (1982) 1.
[4] H.P. Hutagalung, Bull.
Environ. Contam. Toxicol. 39 (1987) 406.
[5] H.P. Hutagalung, In: B.
Watson, K. S. Ong, Vigers (Eds.), Proceedings. of ASEAN-CANADA Midterm
Technical
Review Converence of Marine
Science, Singapore, 1995, p.273.
[6] S. Westerlund, B. Magnuson,
Anal. Chim. Acta. 131(1981) 63.
[7] Kantor Kementrian Negara
Lingkungan Hidup, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.Kep-51/2004