Selasa, 16 April 2013

DAMPAK PENCEMARAN LOGAM BERAT TERHADAP KUALITAS AIR LAUT DAN SUMBERDAYA PERIKANAN (STUDI KASUS KEMATIAN MASSAL IKAN-IKAN DI TELUK JAKARTA)


Pendahuluan
Perkembangan industri di daerah DKI dan sekitarnya dewasa cukup pesat. Peningkatan jumlah industri ini akan selalu diikuti oleh pertambahan jumlah limbah, baik berupa limbah padat, cair maupun gas. Limbah tersebut mengandung bahan kimia yang beracun dan berbahaya (B3) dan masuk ke Teluk Jakarta melalui 13 DAS yang bermuara ke perairan ini. Masuknya limbah ini ke perairan laut telah menimbulkan pencemaran terhadap perairan. -Diperkirakan dalam sehari lebih dari 7.000 m3 limbah cair termasuk diantaranya yang mengandung logam berat yang dibuang melalui empat sungai yang melintasi wilayah Tangerang. Keempat sungai itu adalah Sungai Cisadane, Cimanceri, Cirarab dan Kali Sabi. Sungai-sungai tersebut bermuara ke Teluk Jakarta, sehingga dapat meningkatkan kadar logam berat dalam air laut.  Teluk Jakarta merupakan teluk yang paling tercemar di Asia akibat limbah industri dan rumah tangga. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kadar logam berat dalam air di Teluk Jakarta sudah tergolong tinggi, bahkan di beberapa lokasi seperti muara Angke kadar logam beratnya cenderung meningkat. Hasil penelitian di perairan muara Angke menunjukkan bahwa air laut , udang, kerang-kerangan dan beberapa jenis ikan yang hidup di muara Angke telah tercemar oleh merkuri (Hg), Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd). Selanjutnya disebutkan bahwa sumber bahan cemaran tersebut berasal dari kegiatan di darat, khususnya industri yang membuang limbahnya ke Kali Angke. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat di Barat Teluk Jakarta lebih tinggi dibandingkan di bagian Timur Teluk. Hasil ini menunjukkan bahwa sungai–sungai yang bermuara di bagian Barat Teluk lebih banyakmengandung logam berat dibandingkan dengan sungai-sungai yang bermuara di bagian Timur.

Kesimpulan
Berdasarkan data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kadar logam berat Hg, Pb, Cd, Cu, Zn, dan Ni hasil penelitian P2O-LIPI masih sesuai dengan NAB yang ditetapkan oleh [7] untuk kepentingan biota laut, sebaliknya hasil penelitian BPLHD kadar logam berat tersebut telah melewati NAB. Perbedaan hasil ini disebabkan oleh perbedaan letak stasiun sampling. Dengan demikian penyebab kematian massal ikan ini bukan disebabkan oleh logam berat, akan tetapi disebabkan oleh munculnya beberapa jenis fitoplankton yang beracun, sehingga warna air laut menjadi kemerahan. Selain fitoplankton beracun, senyawa fenol dapat pula menyebabkan kematian ikan, mengingat senyawa ini paling banyak digunakan oleh manusia sebagai antiseptic.


Saran
1.      Adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat agar menjaga lingkungannya.
2.      Menetapkan batas aman untuk limbah yang dibuang ke laut atau sungai.
3.      Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
4.      Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga limbah yang nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem.
5.      Pembuatan sanitasi yang benar dan bersih agar sumber-sumber air bersih lainnya tidak tercemar.

Daftar Pustaka
1] Anon., Environemntal Watch, Catatan Peristiwa Kerusakan Lingkungan, Forum Pengendali Lingkungan Hidup
Indonesia, Jakarta, 2004.
[2] S. Yatim, S. Surtipanti, S. Syamsu, E. Lubis, Majalah Batan No.12 (1979) 1.
[3] H.P. Hutagalung, H. Razak, Oseanologi di Indonesia 15 (1982) 1.
[4] H.P. Hutagalung, Bull. Environ. Contam. Toxicol. 39 (1987) 406.
[5] H.P. Hutagalung, In: B. Watson, K. S. Ong, Vigers (Eds.), Proceedings. of ASEAN-CANADA Midterm Technical
Review Converence of Marine Science, Singapore, 1995, p.273.
[6] S. Westerlund, B. Magnuson, Anal. Chim. Acta. 131(1981) 63.
[7] Kantor Kementrian Negara Lingkungan Hidup, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.Kep-51/2004


Tidak ada komentar:

Posting Komentar